Rabu, 11 Februari 2009

Sumsel bangun jalur KA

Kamis, 12/02/2009

Pasar batu bara China belum digarap
Pemprov Sumsel akan bangun jalur KA untuk permudah ekspor

JAKARTA: Sumatra Selatan belum mampu menggarap pasar batu bara China, yang membutuhkan pasokan batu bara rata-rata 5 juta ton per tahun untuk energi pembangkit listrik di Negeri Panda itu.

Gubernur Sumsel Alex Noerdin mengungkapkan belum tergarapnya pasar negara tersebut karena dukungan fasilitas transportasi kurang memadai.

"Negara China membutuhkan batu bara untuk energi pembangkit listrik rata-rata 5 juta ton per tahun, dan kita provinsi kaya potensi itu belum mampu memenuhinya," ujar gubernur ketika menerima pengurus Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Sumsel, seperti dikutip Antara, kemarin.

Menurut Alex, dari total cadangan batu bara Sumsel yang cukup besar mencapai 22,5 miliar ton hingga kini baru dapat diproduksi rata-rata 12 juta ton per tahun melalui perusahaan PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim.

Dia menjelaskan produksi batu bara dari mulut tambang di Tanjung Enim diangkut menggunakan fasilitas transportasi kereta api batu bara rangkaian panjang (babaranjang) ke pelabuhan Tarahan di Lampung, dan ke penimbunan di Kertapati, Palembang.

Selain itu, sambungnya, menggunakan fasilitas angkutan dari pelabuhan di Kertapati menggunakan angkutan laut yakni kapal tanker.

"Semua batu bara yang diangkut dari mulut tambang ini disuplai memenuhi kebutuhan dalam negeri, antara lain dipasok ke perusahaan listrik tenaga uap (PLTU) di Suralaya, Jawa Barat, pabrik semen di Baturaja, ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ulu, serta sebagian diekspor," ujar Alex.

Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumsel menyebutkan ekspor batu bara Sumsel selama Januari-November 2008 mencapai 4,18 juta ton dengan hasil devisa US$283,9 juta.

Jalur kereta api


Menurut gubernur, guna memenuhi permintaan batu bara sejumlah negara konsumen, termasuk China, pemprov telah memprogramkan pembangunan jalan kereta api (KA) dua jalur dari mulut tambang menuju Pelabuhan Tanjung Api-Api.

Pembangunan jalan KA itu sangat dibutuhkan untuk kelancaran arus angkutan serta peningkatan kapasitas produksi batu bara. Rel KA yang dibangun semasa pemerintahan Belanda tidak memungkinkan lagi untuk peningkatan kapasitas angkut.

Selain pembangunan jalan KA baru, juga banyak infrastruktur lainnya termasuk Pelabuhan Tanjung Api-Api yang melibatkan investor nasional dan asing.

"Jika semua infrastruktur pendukung itu selesai dibangun, produksi batu bara Sumsel dalam waktu 3 atau 4 tahun mendatang dapat ditingkatkan menjadi 20 juta hingga 30 juta ton per tahun."

Pada perkembangan lain, Gubernur Sumsel mendesak PT PLN memberikan kemudahan perizinan pembangunan pembangkit swasta guna mengatasi krisis listrik.

"Provinsi akan permudah perizinan, dan gedor PLN kalau tidak ada izin (dari PLN). Biar Gubernur yang memberikan izin," tegas Alex di Palembang, kemarin.

Pemprov Sumsel akan mengeluarkan kebijakan untuk mendorong percepatan pembangunan pembangkit listrik dengan mempermudah mekanisme pemberian perizinan.

Dia menjelaskan di Sumsel ada rencana pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 4x600 megawatt (MW)di Kabupaten Musi Rawas dan 2 x 100 MW di Kabupaten Lahat oleh swasta.

Gubernur Sumsel mengungkapkan 4 tahun lalu Kabupaten Musi Banyuasin sudah siap membangun pembangkit 2 x 150 megawatt (MW) tetapi hingga kini power purchase agreement (PPA) belum juga keluar.

"Kalau kekurangan 200 MW - 300 MW ada beberapa unit pembangkit mengalami kerusakan atau pemeliharaan tentu bakal ada pemadaman," ujar Gubernur Sumsel, kemarin.

Dia menjelaskan beban puncak pada pukul 18.00-20.00 mencapai 1.600 MW. Adapun ketersediaan daya pasok hanya 1.700 MW sehingga sangat rawan terjadinya krisis listrik.

Menurut Alex, Sumsel idealnya punya cadangan sekitar 30% di atas beban puncak. Dengan begitu, pasokan tetap terpenuhi, meski sebagian pembangkit dalam masa pemeliharaan. (k49) (bambang.supriyanto@bisnis.co.id)

Oleh Bambang Supriyanto
Bisnis Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar